Skip to main content

Leptospirosis pada Anjing

Dokter-hewan.net – Leptospirosis merupakan salah satu penyakit menular dan zoonosis (menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya). Penyebab penyakit ini adalah bakteri Leptospira interrogans. Leptospira sp dapat bertahan hidup pada lingkungan yang lembab dan hangat, musim penghujan, dataran rendah, daerah tropis dan subtropis. Leptospirosis rentan menyerang anjing yang memiliki aktifitas di luar lingkungan rumah, termasuk anjing pemburu.

Leptospirosis pada anjing disebabkan oleh infeksi dari berbagai serovar Leptospirosis interrogans antara lain L. australis, L. autumnalis, L. ballum, L. batislava, L. bataviae, L. canicola, L. grippotyphosa, L. hardjo, L. icterohaemorrhagica, L. Pomona, dan L. tarassovi. Sedangkan, leptospirosis pada kucing dapat disebabkan oleh serovar L. Bratislava, L. canicola, L. grippotyphosa, dan L. Pomona. Serovar yang sering digunakan dalam vaksin leptospira adalah L. canicola dan L. icterohaemorrhagica.

Penularan leptospirosis ke hewan lainnya dapat melalui kontak langsung dan tidak langsung. Penularan secara langsung dapat melalui urin, abortusan, cairan sperma penderita, kontak dengan selaput lendir, mata, dan luka di kulit serta mulut. Sedangkan, penularan secara tidak langsung dapat melalui lingkungan yang terkontaminasi seperti tanah, makanan, air dan kondisi lingkungan lain yang cocok dengan leptospira bertahan hidup. Leptospira dapat berasal dari hewan reservoir seperti tikus. Leptospira yang berhasil menembus kulit dan mukosa akan masuk dengan cepat ke pembuluh darah (4 – 7 hari) dan kemudian menyebar ke seluruh bagian tubuh (2 – 4 hari), terutama ke organ ginjal dan hepar.

Gejala klinis akan muncul setelah masa inkubasi selama 5 – 15 hari. Hewan yang menderita secara perakut dan akut akan menunjukkan gejala seperti anoreksia, lesu, hipertensi otot – otot perifer, pernafasan dangkal, vomitus, demam, mukosa pucat dan takikardi. Kerusakan sel – sel trombosit akan mengakibatkan koagulasi perivaskuler yang luas sehingga terjadi ptechie dan ekimosis di kulit, epistaksis dan melena. Gejala khas lainnya adalah terjadi jaundice (kuning) pada membran mukosa karena hepar mengalami nekrosis. Leptospira akan berkoloni dan bereplikasi di dalam epitel tubuli ginjal sehingga menyebabkan nefritis interstisialis. Kematian yang terjadi dapat disebabkan akibat nefritis interstisialis dan kerusakan pembuluh darah.

Diagnosa terhadap leptospirosis tidak cukup hanya berdasarkan gejala klinis dan hematologi atau kimiawi darah. Pada tes pemeriksaan darah, terdapat adanya peningkatan PCV akibat dehidrasi, leukositosis, trombositopenia, BUN dan kreatinin yang tinggi (indikasi gangguan pada ginjal), peningkatan enzim hati, proteinuria dan isothenuria. Pemeriksaan yang dilakukan hanya dapat mengetahui adanya gangguan pada ginjal dan hepar saja, bukan agen penyebabnya. Sedangkan, diagnosa terhadap agen penyebab penyakit dapat dilakukan melalui pemeriksaan dengan PCR.

Terapi pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita leptospirosis adalah terapi cairan karena gejala dehidrasi yang ditimbulkan akibat demam dan anoreksia. Jika pasien tidak urinasi atau urn yang keluar sedikit, maka dapat diterapi dengan menggunakan diuresis yang tidak memberatkan ginjal. Sebelum dilakukan diuresis, sebaiknya dilakukan rehidrasi terlebih dahulu. Selanjutnya, diberi pengobatan antibiotik terhadap bakteri leptospira tersebut.

Pencegahan dengan vaksinasi merupakan upaya terbaik yang dapat dilakukan. Dan tindakan pencegahan lainnya yang harus Anda lakukan sebagai pemilik hewan kesayangan adalah menjaga sanitasi kandang untuk mencegah kontak dengan urin penderita, pengendalian terhadap hewan pengerat, monitoring dan memindahkan anjing yang menjadi carier penyakit sampai terapi selesai diberikan, dan mengisolasi pasien selama diberi terapi pengobatan.

Anda harus ingat! Leptospirosis merupakan salah satu penyakit zoonosis atau dapat menular dari hewan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat terlihat secara subklinis dengan gejala ringan seperti sakit flu, dan atau gejala berat seperti gangguan liver dan ginjal. Oleh karena itu, pencegahan harus senantiasa Anda perhatikan. Hal yang dapat dilakukan adalah desinfeksi area menggunakan sarung tangan, masker, dan cuci tangan setelah kontak dengan penderita. Selain itu, perlu adanya pembatasan aktifitas ke area yang basah serta dataran rendah dengan air yang menggenang. [AD]

Comments

Popular posts from this blog

Seorang Pria Membuang Anjingnya Karena Hal Sepele, Catatannya bikin haru!

Dokter-hewan.net - Keji! Itulah ungkapan yang diutarakan oleh pet lover ketika membaca judul di atas. Bagaimana tidak, hewan yang seharusnya disayang namun dibuang dan ditelantarkan oleh seseorang yang berhati kejam seperti pria ini. Seorang pria di New Mexico terekam oleh CCTV ketika proses menelantarkan anjingnya. 
Awalnya pria tersebut datang ke restoran cepat saji di kota setempat mengendarai minibus berwarna hitam. Pria tersebut turun dari kendaraan bersama anjingnya. Saat masuk ke restoran cepat saji, anjing malang ini menunggu diluar sampai tuannya keluar setelah memesan pesanannya. Namun sayangnya, saat tuannya keluar, anjing tersebut tidak digubris lagi. Pria berhati beku ini, pura-pura tidak mengenali anjingnya dan pergi meninggalkan anjingnya di depan restoran tersebut. 
Untungnya anjing ini diselamatkan oleh tangan yang tepat dan segera ditempatkan di tempat yang aman dan segera dicarikan orang tua baru yang lebih bertanggung jawab. Namun, hal yang mengharukan terjadi saat…

Lowongan Pekerjaan : THL DEPTAN Lampung

Dokter-hewan.net - Dibutuhkan segera Dokter Hewan sebagai THL Dokter Hewan DEPTAN untuk menggantikan dokter hewan yang lama. Lokasi penempatan Kabupaten Way Kanan, Lampung. 
Fasilitas :  Gaji THL PusatHonor Daerah 1 JutaMess PuskeswanKendaraan DinasTeman-teman yang menyenangkanInsyaallah banyak pasien Yang berminat hubungi :  081271238020 (Bu Anik) 085725878726 081366450877 (drh. Nia)